Makalah
Memanusiakan Manusia
Disusun oleh :
Muhammad Adli Nur
Rachman

T.A. 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia menggunakan akalnya untuk
berusaha mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Pendidikan merupakan
pilar utama untuk membentuk manusia seutuhnya. Tetapi ada juga sebagian dari
mereka menyalahgunakan pendidikan yang mereka dapatkan untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Untuk mencapai kebutuhannya mereka tidak menggunakan moral dan etika dalam
bekerja. Sehingga rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama manusia
tidak diperhatikan lagi. Oleh karena itu,banyak terjadi penyimpangan sosial
baik yang disadari maupun tidak disadari yang terjadi di masyarakat yang
mengakibatkan kerugian baik materi maupun nonmateri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Memanusiakan Manusia
Pengertian "Memanusiakan Manusia" adalah
menjadi manusia seutuhnya.Artinya, sebagai ciptaan Tuhan paling mulia,
kebahagiaan utama adalah tatkala kita dapat menjadikan sesama manusia lebih
terdidik, lebih bermartabat, lebih sukses, lebih pintar, dan lebih baik
hidupnya.Di situlah baru seseorang benar-benar memperoleh ‘gelar
kemanusiaannya’.Selama kepintaran, keterdidikan, kesuksesan, kekayaan, dan
semua kelebihan yang dimiliki hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri
sendiri, berarti belum menjadi manusia utuh sebagaimana seharusnya.[1]
B.
Sistem Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia
Sistem pendidikan yang ada di negeri ini sepertinya sistem yang masih
tambal sulam. Padahal di negeri ini tidak kurang akan orang-orang yang katanya
pintar buktinya profesor banyak, doktor apalagi belum yang bergelar master dan
sarjana tak terhitunglah. Upaya pemerintah untuk perbaikan sistem pendidikan
masih berjalan setengah-setengah belum lagi adanya "orang-orang lama"
yang menghendaki "status quo" tetap berjalan. Dimana sebenarnya
ditingkat pengambil kebijakan sudah ada kesepakatan-kesepakatan yang terlihat
sangat berpihak pada rakyat katakanlah. Namun, ternyata ditingkatan bawah atau
ditingkatan pelaksana yang sudah tersistemkan dengan sistem lama yang sama
sekali berbeda dengan sistem yang baru masih menerapkan cara-cara lama sehingga
banyak sekali kesepakatan dan kebijakan yang begitu merakyat ditingkatan
pengambil kebijakan tidak bisa dilaksanakan ditingkatan bawah.
Memperbaiki sistem itu memang sama dengan mengurai benang kusut yang
membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup lama. Tapi kita perlu menginggat
bahwa sistem pendidikan adalah sistem yang bekerja pada manusia.Sifat manusia
pada dasarnya adalah dinamis sehingga perlu sistem yang fleksibel untuk
mengikuti kedinamisan manusia. Pendidikan kita saat ini mungkin tidak akan
relevan lagi bagi cucu dan buyut kita dimasa mendatang. Seorang pendidik
sejati, Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa "Didiklah
anak-anakmu sesuai dengan zamannya".
Yang perlu diingat bahwa siswa atau anak-anak kita bukanlah obyek
pendidikan tapi mereka juga adalah subyek pendidikan dimana dalam konsep
pendidikan sejati bahwa semua orang harus belajar dan terus belajar. Tetaplah
merasa hijau (ever green) karena kalau sudah merasa matang maka ciri-cirinya ia
akan segera busuk. Apalagi dalam salah satu ajaran agama islam bahwa menuntut
itu hukumnya wajib dari sejak dibuaian ibu sampai akan memasuki liang lahat.
Sistem pendidikan yang paling baik tentunya yang dapat mengikuti perkembangan
zaman artinya pendidikan kehidupan life skill education adalah yang paling
tepat.Melihat fenomena yang ada berbagai alternatif pendidikan muncul dari
homeschooling sampai ada sekolah alam.
Yang terakhir ini idenya sangat brilian dan cukup menjadi alternatif yang
banyak dikejar oleh orang tua.Dengan konseptor Bpk Lendo Novo beliau melihat
bahwa sistem pendidikan yang baik adalah yang kembali kepada alam atau dalam
istilah beliau berguru kepada alam.Dengan konsep teladannya juga mengacu pada
orang yang sukses dunia dan akhirat yaitu Rasulullah SAW.Memang dalam
perjalanannya sekolah alam banyak mendapat sorotan.Bahkan untuk mendapat izin
pendirian dari Dinas Pendidikan saja sangat sulit dan memang dipersulit.Tetapi
salutnya sekolah ini tetap bisa berjalan dan eksis untuk turut serta untuk
meningkatkan dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Pendidikan merupakan aplikasi dari filsafat antropologi atau filsafat
yang menelusuri makna manusia. Aspek kemanusiaan (baca : humanistik) dalam
pendidikan perlu mendapat perhatian intens dalam merumuskan konsepsi pendidikan
yang bermoral. Yakni, konsepsi pendidikan yang menitikberatkan pada pembentukan
karakter yang berkepribadian luhur dan mulia (character Building).
H.A.R Tilaar dalam bukunya Manifesto Pendidikan Nasional, mengungkapkan
hakikat pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yaitu menyadari akan
manusia yang merdeka. Manusia yang merdeka hidup membudaya.Pendidikan harus
mendorong manusia, yang dibesarkan dalam habitusnya, untuk menciptakan dan
merekonstruksi budayanya itu sendiri.
Manusia membentuk budaya.Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia diberikan
daya kreatifitas untuk berproduksi secara bijaksana, bukan secara rakus.Manusia
mengelola alam, bukan merusaknya.Dalam hidup dengan sesamanya, bersikap hormat
dan mengasihi, bukan dengan diskriminasi dan penindasan.Mengusahakan
perdamaian, bukan menyulut peperangan.Sebagai pemegang otoritas, manusia
menegakkan keadilan dan menjalankan hukum.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membentuk manusia-manusia
seperti ini, manusia yang hidup sebagai manusia, bukan sekedar “mur-baut” bagi
mesin ekonomi.Suatu tugas yang berat memang, tetapi agung.
Pendidikan bukan sekedar proses transmisi pengetahuan dari seseorang
kepada yang lainnya (transmiting the message from one people to another),
-dimana pendidikan semacam itu tidak lebih dari upaya doktrinisasi dogma-dogma
yang mengarah pada keterpaksaan kesadaraan- lebih jauh pendidikan merupakan
ikhtiar transformasi tindakan yang teraktualisasikan dalam perbuatan yang
disadari dan berorientasi nilai. Sebuah proses penyadaran humanistis yang tidak
sekedar intelektual contagion (pewarisan intelektual), melainkan pula
memberikan ketenangan batini sehingga berimplikasi dalam kehidupan
sosial-nyata.
Pendidikan yang dimaksud yakni sebuah upaya perwujudan system pendidikan
berkarakter yang didasarkan pada kepekaan social, integrasi intelektual dan
pemeliharaan spiritual. Ketiga elemen penting tersebut merupakan bagian dari
nilai-nilai yang harus senantiasa ada dalam proses transfer ilmu, proses
pendidikan. Kalau memang ketiga elemen itu dapat di bangun, niscaya pendidikan
moral di lingkungan kita adalah sebuah harapan besar yang akan terwujud dengan
adanya kesadaran dari berbagai pihak.[2]
C.
Manusia dan pandangan hidup
Yang dimaksud dengan pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang
kehidupan atu bagaimana manusia memiliki rancangan tentang kehidupan. Akibat
dari pandangan hidup yang berbeda-beda , maka timbulah pandangan hidup yang
dapat dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham. Sebagai contoh orang
yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan faham individualisme dan orang yang
mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.
Pandangan hidup juga tidak terlepas dari masalah nilai dalam kehidupan
manusia pada umumnya.oleh karena itu, pandangan hidup yang sempurna merupakan
wujud pertama kebudayaan yang tidak boleh terlepas dari nilai budaya.
Pelukis Basuki Abdullah mempunyai pandangan keindahan bahwa sesuatu dapat
dikatakan indah apabila sesuai dengan keindahan alam .oleh karena itu lukisan
kuda ataupun manusia harus benar-benar sesuai dengan wujudnya baik dari segi
struktur maupun warnanya sehingga orang mengagumi keindahannya akan berkomentar,
“Aih betapa indahnya, persis seperti aslinya!”. Pandangan tersebut dalam seni
lukis disebut alira naturalisme. Sedangkan pelukis S.Soedjojono memiliki
pemikiran atau pemandangan, bahwa nilai seni yang indah adalah yang
menggambarkan ekspresi sang pelukis. Sebab dengan paham ini perasaan, pikiran,
ataupun pandangan sang pelukis akan tercermin dalam karyanya. Aliran yang
disebut ekspesionisme ini berpendapat bahwa karya seperti itu dapat
mengutarakan apa yang terasa, terpikir, ataupun terpandang oleh pelukis. Mereka
tidak menjiplak alam (memetik), tetapi menciptakan karya seni.Oleh karena itu
mereka tidak terikat oleh alam, tetapi bebas menciptakan karya.Misalnya karya
yang diberijudul Wawayangan oleh S.Soedjojono menggambarkan kehidupan dalam masyarakat
secara rohani. Pelukis seperti Popo Iskandar pandangan hidupnya tidaklebih
tidak terikat oleh alam ataupun perasaan pelukis tetapi menciptakan suatu yang
baru yang lebih mengarah pada abstraksi (tidak jelas) sehingga alirannya
dikenal sebagai aliran abstraksisme atau kubisme karena kadang-kadang dalam
mewujudkan lukisan banyak menggunakan kubus atu garis-garis.
Bagi orang awam pemikiran aliran ini sulit dipahami, akan tetapi bagi
mereka yang mengerti akan berpendapat bahwa itulah hasil karya manusia yang
sebenarnya.
Dari ketiga contoh diatas dapat dikembangkanbagaimana manusia memandang
kehidupan yang lain brdasarkan nilai-nilai budaya dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat itu adalah menangis , tertawa,berpikir, berkata, bercinta,
mempunyai keturunan, dan sebagainya.
Kebutuhan hidup adalah kebutuhan jasmani dan rohani.Kebutuhan jasmani
adalah pangan, sandang, dan papan.Sedangkan kebutuhan rohani meliputi
kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasan hiburan, dan sebagainya.
Dalam mencukupi kebutuhan baik kodrat maupun kebutuhan hidup, manusia
memerlukan bantuan orang lain.
Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat dan kebutuhan hidup, maka setiap
orang mengharapkan kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Sehubungan dengan kebutuhan
manusia, Abraham Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam,
yang merupakan lima harapan manusia adalah :
a.
Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
(survival).
b.
Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
c.
Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk
mencintai dan dicintai (beloving and love).
d.
Harapan memperoleh status atau untuk diterima
atu diakui lingkungan.
e.
Harapan untuk memperoleh perwujudan dan
cita-cita (self actualization).
D.
Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”, artinya rasa tidak tentram hati,
tidak tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas dan khawatir.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau
gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau
gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir
dalam ruangan tertentu sambil menundukkan kepala.
Kegelisahan itu timbul karena perbuatan sendiri atau karena keadaan luar
manusia, yang memberi pengaruh psikologis yang merugikan terhadap harta kekayaan,
jiwa atau badan, martabat, dan harga dirinya.Pengaruh tersebut tidak hanya pada
diri seseorang tertentu itu, melainkan dapat terjadi juga pada orang lain, pada
keluarga, dan pada masyarakat.Karena perbuatan tertentu bapak gelisah, ibu
gelisah, keluarga gelisah, tetangga ikut gelisah, bahkan masyarakat sekitar
menjadi gelisah.Misalnya seorang pejabat dituduh menyalah gunakan kekuasaan
dikantornya.Ketika istirahat dirumahnya, ada petugas yang diperintahkan untuk
menangkap dan menahan pejabat tersebut. Suasana menjadi menjadi tidak menentu,
apa benar bapak itu menylah gunakan kekuasaannya, padahal sehari-hari ia
dikenal sebagai orang yang baik, ramah, suka menolong sesama,hidupnya
biasa-biasa saja,dan lain-lain. Karena keadaan ini istrinya gelisah, anaknya
gelisah, tetangga gelisah, dan pejabat yang bersangkutan.
Adapun sebab-sebab orang gelisahpada hakekatnya orang takut kehilangan
hak-haknya.Hal itu disebabkan karena adanya suatu ancaman yang asalnya dari
luar atau dari dalam dirinya sendiri.
Usaha-usaha untuk mengatasi kegelisahan, pertama-tama harus dimulai dari
diri sendiri, yaitu kita kita harus bersikap tenang.Dengan bersikap tenang,
kita dapat berpikir tenang, sehingga segala kesulitan dapat kita atasi.Untuk
menghilangkan kegelisahan adalah pasrah diri kepada Tuhan. Kita harus percaya
bahwa Tuhanlah Maha Kuasa , Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun.
E.
Harapan
Harapan selalu dilatar belakangi oleh kehidupan oleh kehidupan yang
berfokus pada kebutuhan hidup, yang bertujuan untuk menciptakan
kemakmuran, kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan. Harapan selalu menimbulkan
sikap positif, optimis, aktif dan kreatif, karena ada satu
unsur yang menentukan, yaitu diukur dengan kemampuannya sendiri. Usaha yang
sudah dirintintis itu membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan
hidup.Sedangkan kemampuan dirisendiri, membangkitkan sikap ”percaya diri” bahwa
apa yang diharapkanitu berhasil. Keinginan manusia dapat dibedakanmenjadi tiga
macamsecara berurutaan, yaitu : angan-angan,cita-cita dan harapan. Angan-angan
adalah suatukeinginan yang tidak mungkin tercapai, karena tidak didukung oleh
kemampuan dan usaha.Cita-cita adalah suatu keinginan yang mungkin dapat
dicapaibila disertai usaha yang kuat, dan didukung oleh suatu kemampuan.Dalam
hal ini keinginan itu masih didalampikiran, belum terwujut dalam usaha.Harapan
adalah suatu keinginan yang mungkin tercapai dengan usaha yang telah dirintis
(dimulai), karena didukung oleh kemampuan.
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu
terjadi, sehingga harapan dapat diartikan sesuatu yang diinginkan dapat
terjadi. Yang dapat disimpulkan harapan itu menyangkut permasalahan masa depan.
Setiap manusia mempunyai harapan.Manusia yang tanpa harapan, berarti
manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai
harapan, biasanya berupa pesan – pesan kepada ahli warisnya.
Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan
hidup dan kemampuan masing – masing.Misalnya, Budi hanya mampu membeli sepeda,
biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai
harapan yang berlebihan terkadang akan berakibat menjadi tertawaan orang banyak
seperti pribahasa “Si pungguk merindukan bulan”, walaupun tidak ada yang tidak
mungkin didunia ini bila Tuhan berkehandak.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri
sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Agar harapan dapat
terwujud, maka diperlukan usaha dengan sungguh – sungguh, berdoa dan pada
akhirnya bertawakal agar harapan itu dapat terwujud.
Sebab manusia mempunyai harapan adalah menurut kodratnya manusia itu
adalah mahluk sosial.Setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu
interaksi hidup, yakni ditengah suatu keluarga atau sebagai anggota
masyarakat.Tidak ada satu manusiapun yang luput dari interaksi hidup.Ditengah –
tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik / jasmani
maupun mental / spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup
berinteraksi dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan
hidup.
Dorongan kodrat, ialah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah
terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan.Misalnya
menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan
sebagainya.Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan kebutuhan hidup, sudah kodratnya bahwa manusia mempunyai
bermacam – macam kebutuhan hidup.Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat
dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Menurut Abraham
Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manuis itu ialah
:
a.
Kelangsungan hidup (survival)
b.
Keamanan (safety)
c.
Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be
loving and love)
d.
Diakui linkungan (status)
e.
Perwujudan cita – cita (self actualization)[3]
BAB III
Memanusiakan
manusia pada zaman sekarang sudah sulit ditemukan.Ini karena penyalahgunaan
pendidikan dan sistem pendidikan yang kurang diperhatikan.Penyalahgunaan
pendidikan oleh orang yang memiliki status di masyarakat maupun negara dapat
menimbulkan kesengsaraan bagi kaum pribumi, yang kaya tambah kaya dan yang
miskin tambah miskin.
Untuk
membentuk manusia yang dapat memanusia lain kita harus memberikan system
pendidikan berkarakter yang didasarkan pada kepekaan social, integrasi
intelektual dan pemeliharaan spiritual. Ketiga elemen penting tersebut
merupakan bagian dari nilai-nilai yang harus senantiasa ada dalam proses
transfer ilmu, proses pendidikan.
Salah satu
ciri orang terdidik adalah menjadi manusia yang beradab dan untuk mewujudkan
itu dibutuhkan kemauan dan tindakan yang nyata dari manusia itu sendiri untuk
membentuk masyarakat yang lebih beradab.
Komentar
Posting Komentar